Posted on 16:04 Hrs,March 19th, 2010 by sulaiman effendi
    Setiap sore, saat perjalanan pulang dari kantor TWP menuju rumah, saya biasa melalui jalan pintas untuk menghemat waktu perjalanan.
    Jalan tersebut bisa dilewati motor ataupun mobil, saya pun kadang melaluinya dengan motor atau mobil sesekali. Jalan pintas tersebut akan berujung pada sebuah akses menuju jalan utama yang relatif padat dan tak ber-petugas (baca: polisi).
    Setiap saat melewati jalan itu, saya perhatikan pasti ditemui seorang petugas pengatur swasta--di beberapa daerah dikenal dengan mister cepek--yang selalu berganti-ganti orang.
    Diantara sekian 'petugas' tersebut tipikal-nya sama: hanya bersedia mengatur jalan jika yang melewatinya kendaraan roda empat, baik pengemudinya memberi uang ataupun tidak...sementara jika yang melintas hanya sepeda motor, dia akan diam tak bereaksi tak peduli sekalipun antriannya cukup panjang.
    Kearifan yang saya dapat untuk di-share disini, diperoleh dari salah seorang 'petugas' yang beda dari lainnya. Dari segi usia, dia lebih renta dari lainnya. Tapi satu hal kelebihan dia adalah tidak membedakan siapa--kendaraan apa--yang melintas, motor atau mobil, satu atau banyak, dia selalu dengan sergap mengatur jalan!
    Dalam benak, saya iri...betapa besar hatinya si bapak hingga dia tidak pandang bulu dan (pastinya) tidak semata-mata demi uang--karena bila yang lewat motor, pasti tidak ada yang memberinya tip--
    Pasti ada kekuatan besar yang mengarahkan dia, bernama KEARIFAN...lebih besar dari sekadar sekeping dua uang receh, lebih besar karena berbuah PAHALA!
    Betapa sulaiman effendi ingin menirunya, di bidang kehidupan lain...
    Semoga!
(Di-posting saat menunggu pengumuman pemenang pitching event, 15:54 WIB)
Share This Post
Posted on 16:08 Hrs,October 10th, 2008 by sulaiman effendi

Indeks harga saham turun serentak? BEI menyuspen perdagangan saham? Nilai tukar Dollar jadi Rp. 10.300??

Hal-hal semacam ini dulunya tidak menjadi perhatian utama bagi saya, walaupun cukup menyita ruang pikir. Tetapi beberapa hari terakhir hal ini semakin menjadi bahan bakar atas api kebimbangan yang melanda. Bimbang antara melanjutkan hidup dengan berjuang secara mandiri ataukah kembali menjadi 'buruh' di ladang orang.

Ya, saya yang sejak tiga tahun terakhir berwiraswasta berkongsi mendirikan agency Teamwork Partner (TWP) mulai dijalari kemalasan untuk tetap memimpin karyawan dan berusaha menghidupi keluarga dengan upaya mandiri tanpa bergantung pada orang lain. Awalnya hanya berupa kebosanan menghadapi perilaku buruk karyawan (yang notabene juga teman dan kongsi) yang tidak pernah berubah. Tidak disiplin, susah diajak berkembang, malas mencari klien hingga keteledoran yang berakibat kerugian bagi perusahaan.

Dari sekadar bosan, lalu berkembang menjadi persoalan pribadi...'apakah saya bisa lebih makmur di masa depan, dengan hanya mengandalkan usaha semacam ini?'. Wajar saja pertanyaan itu muncul, seiring dengan kebutuhan keluarga yang semakin hari semakin banyak didukung situasi-kondisi yang serba materialistis. Lalu apa hubungannya dengan kondisi perekonomian terkini diatas? Jujur, kondisi-kondisi tersebut cukup menghantui langkah saya kedepan jika tetap bertahan. Apakah resesi ekonomi jilid dua akan muncul? Apakah kondisi keuangan perusahaan masih bisa bertahan dua-tiga bulan kedepan?

Namun, adakalanya saya berpikir ulang...mengapa menghadapi kondisi semacam ini saja harus menyerah? bukankah sebelumnya sudah pernah menghadapi kondisi yang lebih sulit? bagaimana pula dengan komitmen untuk tetap maju bersama dengan rekan se-kongsi? bukankah kondisi semacam ini justru akan menggembleng saya--sebagai entrepreneur--menjadi semakin matang?

Hingga posting ini di-publish, belum ada solusi, baru ada lompatan-lompatan pertanyaan dan reka-reka segala kemungkinan...

seandainya karyawan (baca: teman-teman) saya punya semangat yang sama...

Share This Post
Posted on 15:24 Hrs,July 15th, 2008 by sulaiman effendi
Sebelumnya, saya tidak tertarik untuk buat account di Friendster, Facebook, Twitter atau jaringan pertemanan sosial semacamnya, hingga suatu pagi membaca tulisan Hermawan Kartajaya di Jawa Pos yang mengulas tentang Facebook. Singkat cerita, saya pun membuka account Sulaiman Effendi dan mulai mencari jejaring teman, dari yang sudah kenal secara fisik, pernah tahu namanya, hingga yang hanya karena fotonya menarik :) Saat posting ini dibuat sudah tercatat 100 lebih teman dari beragam latar belakang dan ini yang semakin membuat ketagihan, karena ternyata ada teman yang sudah mencapai ribuan jaringan... Dan yang semakin membuat saya terpesona adalah saling keterbukaan antara kami sehingga data--yang paling pribadi pun--di-publish, dan ini yang menarik beberapa politisi mulai menggunakan medium ini untuk menyampaikan ide/gagasan politik mereka atau justeru memperkenalkan produk/perusahaan tempat dia bekerja...secara sederhana kira-kira hal ini yang disebut new wave marketing (lebih detailnya bisa tanya Pak Hermawan deh..) Bagaimana menurut anda? (halah ketularan..)
Share This Post