Anda pernah tahu Jamsostek? Atau Anda termasuk sebagian orang yang pernah memanfaatkan layanan Jamsostek?
Sebenarnya, sudah acapkali saya mendengar (atau membaca) betapa buruknya layanan jaminan sosial bagi tenaga kerja ini, tetapi tak ada salahnya saya sharing pengalaman pribadi.
Beberapa hari lalu saya menderita demam dan flu sehingga harus berisitirahat dan tidak beraktifitas di kantor. Karena peraturan perusahaan (yang notabene saya rancang sendiri) mewajibkan karyawan melampirkan surat keterangan dokter untuk setiap ijin sakit–jika tidak ingin dipotong gajinya–maka saya pun memeriksakan diri ke klinik 13 Jamsostek di kawasan rungkut dengan harapan bisa mendapat surat keterangan yang dimaksud.
Kesan pertama sudah berbeda dengan klinik kesehatan atau layanan publik pada umumnya, tidak ada keramahan dari petugas di penerima di depan..tidak pula berupa seulas senyum. Oke, mungkin si mbak yang bertugas lagi capek karena banyak pasien atau lagi bete sama pasangannya mungkin
.
“Nanti gilirannya setelah mbak yang pakai baju merah ya..” ujarnya menunjukkan giliran masuk. Tiba saatnya, setelah si mbak berbaju merah keluar dari ruang dokter tak lebih dari 10 menit, saya pun bergegas masuk.
“Selamat malam!” saya mengucap salam, singkat. Dokter yang bertugas–seorang wanita, sudah cukup berumur–masih cuek dengan tetap serius membaca Kompas di mejanya. Setelah duduk di kursi periksa, lalu tanya basa-basi dengan pertanyaan standar “sakit apa?”.
Pemeriksaan detak jantung dari stetoskop menyatakan normal, lalu berlanjut pemeriksanan tekanan darah. Dengan tensimeter yang sudah berkarat disana-sini, si ibu dokter mulai memeriksa dengan tetap sambil membaca Kompas-nya. Beberapa kali memompa, tidak berhasil…diutak-atik, pompa lagi, utak-atik lagi, baru berhasil terbaca tekanan darah, hasilnya juga normal.
Giliran minta surat keterangan dokter, dia malah menceramahi saya dengan nasihat supaya mempertimbangkan lagi untuk tidak masuk kerja mengingat saat ini banyak PHK dan jamannya outsourcing. “Apa KAMU tidak eman kalo di-PHK karena sering tidak masuk?” ceramah si ibu dokter…
Saya yang lagi males berdebat, mengiyakan saja semua nasihat dia dengan harapan bisa segera keluar dari ruangannya dengan selembar surat keterangan!
—
Niat awalnya sih baik, memberikan fasilitas layanan/jaminan kesehatan bagi karyawan di perusahaan saya, Teamwork Partner. Setelah mempertimbangkan beberapa alternatif layanan, akhirnya pilihan jatuh kepada JAMSOSTEK ini.
Mudah-mudahan layanan yang kurang baik tadi hanya terjadi di klinik itu saja, oleh dokter itu saja…mudah-mudahan di klinik yang lain dan dokter yang lain, customer satisfaction masih menjadi perhatian.
Anda punya pengalaman lain?