
Putri Raemaswati, arek ITS asal Blitar yang terpilih sebagai Puteri Indonesia dan mewakili Indonesia dalam ajang Miss Universe di Vietnam, tiba kembali di Indonesia semalam. Belum hilang rasa lelah selama mengikuti rangkaian acara pemilihan puteri sejagad, Putri sudah ditunggu dengan kontroversi yang merebak di masyarakat akibat keberaniannya menggunakan baju renang model one piece pada sesi penilaian menggunakan swimsuit (video resmi-nya bisa lihat disini)
Sebenarnya kontroversi semacam ini sudah menjadi tradisi setiap pemilihan Miss Universe digelar–dengan wakil Indonesia sebagai salah satu pesertanya–dan argumen yang dikemukakan baik oleh yang pro ataupun yang kontra, masih argumentasi yang sama. Di satu sisi alasan norma agama dan budaya yang disampaikan, di sisi lain alasaan konsekuensi logis sebagai peserta yang dikemukakan.

Saya tidak mau terjebak dalam ritual kontroversi ini, hanya sebagai pribadi saya berpendapat jika memang sebagian besar rakyat Indonesia tidak menghendaki ada wakilnya memperlihatkan lekuk tubuh di depan manusia sejagad (nggak peduli pakai one piece atau two piece!), maka sebaiknya diputuskan tahun depan Indonesia tidak mengirimkan utusan ke pemilihan Miss Universe bahkan ekstrimnya tidak perlu lagi dilanjutkan tradisi pemilihan Puteri Indonesia…maka dijamin tahun 2009 tidak akan muncul kontroversi yang sama.
Akan tetapi, jka ternyata menurut sebagian besar masyarakat, mengirimkan utusan ke Miss Universe itu bermanfaat (manfaatnya kan bisa dicari-cariin..hehehhe), maka tak perlu ada yang mengomentari penampilan Puteri Indonesia dengan bikini di ajang Miss Universe, karena pada dasarnya sesi penilaian swimsuit merupakan unsur wajib selain sesi gaun malam dan baju nasional (katanya begitu sih!), karena–lagi-lagi katanya–faktor penilaian ajang miss-miss-an begitu didasarkan pada 3B (Brain, Beauty, Behaviour).
Brain-nya bagus bila bisa secara spontan menjawab pertanyaan/komentar juri (spontan juga berarti benar loh, jadi kalo menyebut Indonesia is my beautiful city ya gimana yaaaa…). Behaviour berarti tingkah laku para kontestan selama masa karantina. Nah, unsur BRAIN itu lebih besar faktor keberuntungannya…asal mendapat pertanyaan yang bisa dijawab dengan pas, maka dia akan kelihatan smart! BEHAVIOUR? bisalah menahan diri untuk kelihatan supel, ramah, peduli dan baik hati selama sebulan karantina. Maka jadilah faktor BEAUTY yang menjadi penentu, dan itu jelas bukan hanya didasarkan pada model baju yang dikenakan tapi lebih pada WAJAH dan TUBUH…so bagaimana bisa menilai lekuk tubuh si kontestan kalo tidak ber-bikini???
Parahnya, menilai kecantikan seseorang itu kan sangat subjektif. Kontestan asal Afrika bagi sebagian orang tidak cantik, bagi sebagian lainnya eksotis. Kontestan asal Amerika Latin & India, mau dinilai pakai teleskop pun tetap cantik…
Jadi? Ya, nurut selera Donald Trump aja…karenanya sangat sulit wakil Indonesia masuk kategori 3 besar sekalipun. Kecuali suatu saat kita kirim puteri Indonesia naturalisasi dari Brazil, India atau Meksiko hahahahaaa….
Cuma masalahnya, bagaimana menentukan jumlah pendapat ‘sebagian besar masyarakat’ itu tadi? Referendum? Polling? SMS terbanyak? aaahh ribet, pemilu aja banyak yang golput…jadi mendingan kita tetap ber-kontroversi aja deh, supaya koran & majalah tambah laris, rating debat di TV naik, para koruptor sedikit lega karena nggaklagi menjadi pusat perhatian…SAYA? mending nikmatin foto Putri…dengan rambut ikal sebahu dan badan dilulur lotion mengkilat, Putri Raemaswati memang cantik!
foto-foto dari DetikHot & Globalbeauties