Ada Jalan Luna Maya di Surabaya!

lirikan-luna.jpg

Anda percaya? Boleh ya, boleh tidak…

Yang jelas di penggal jalan Tunjungan yang merupakan ikon Surabaya, selain terdapat hotel Majapahit (dh. Hotel Oranje) Anda bisa temukan 3 (TIGA) billboard berukuran besar dengan gambar Luna Maya di dalamnya. Dari ujung ada billboard sebuah produk televisi, lalu melintang ditengah jalan–saat ini status bando jalan ini masih menjadi perdebatan di pemkot dan DPRD kota–sebuah billboard produk selular bertarif murah, bergeser sedikit di sisi kanan jalan, senyum menggoda Luna ditemui di billboard sebuah portal web terkenal.

Karena posisi strategis dan gambar yang menyolok itulah, banyak yang secara plesetan mengganti jalan Tunjungan dengan jalan Luna Maya….

Setidaknya, senyum Luna Maya lebih menarik daripada deretan gambar orang tak dikenal yang terpampang di spanduk, billboard, baliho, lengkap dengan jabatan, gelar dan nomor urut!

Ya, senyum dan lirikan Luna Maya memang menggoda, seandainya Luna mendaftar jadi caleg…loh apa hubungannya??

Bimbang di Simpang Jalan

Indeks harga saham turun serentak? BEI menyuspen perdagangan saham? Nilai tukar Dollar jadi Rp. 10.300??

Hal-hal semacam ini dulunya tidak menjadi perhatian utama bagi saya, walaupun cukup menyita ruang pikir. Tetapi beberapa hari terakhir hal ini semakin menjadi bahan bakar atas api kebimbangan yang melanda. Bimbang antara melanjutkan hidup dengan berjuang secara mandiri ataukah kembali menjadi ‘buruh’ di ladang orang.

Ya, saya yang sejak tiga tahun terakhir berwiraswasta berkongsi mendirikan agency Teamwork Partner (TWP) mulai dijalari kemalasan untuk tetap memimpin karyawan dan berusaha menghidupi keluarga dengan upaya mandiri tanpa bergantung pada orang lain. Awalnya hanya berupa kebosanan menghadapi perilaku buruk karyawan (yang notabene juga teman dan kongsi) yang tidak pernah berubah. Tidak disiplin, susah diajak berkembang, malas mencari klien hingga keteledoran yang berakibat kerugian bagi perusahaan.

Dari sekadar bosan, lalu berkembang menjadi persoalan pribadi…‘apakah saya bisa lebih makmur di masa depan, dengan hanya mengandalkan usaha semacam ini?’. Wajar saja pertanyaan itu muncul, seiring dengan kebutuhan keluarga yang semakin hari semakin banyak didukung situasi-kondisi yang serba materialistis. Lalu apa hubungannya dengan kondisi perekonomian terkini diatas? Jujur, kondisi-kondisi tersebut cukup menghantui langkah saya kedepan jika tetap bertahan. Apakah resesi ekonomi jilid dua akan muncul? Apakah kondisi keuangan perusahaan masih bisa bertahan dua-tiga bulan kedepan?

Namun, adakalanya saya berpikir ulang…mengapa menghadapi kondisi semacam ini saja harus menyerah? bukankah sebelumnya sudah pernah menghadapi kondisi yang lebih sulit? bagaimana pula dengan komitmen untuk tetap maju bersama dengan rekan se-kongsi? bukankah kondisi semacam ini justru akan menggembleng saya–sebagai entrepreneur–menjadi semakin matang?

Hingga posting ini di-publish, belum ada solusi, baru ada lompatan-lompatan pertanyaan dan reka-reka segala kemungkinan…

seandainya karyawan (baca: teman-teman) saya punya semangat yang sama…

One Day, One Post

Sudah lamaaaa banget saya nggak posting di blog, padahal dulu pernah berjanji untuk menulis minimal 500 kata per hari…kenyataannya? lebih banyak malas dan moody

Yang justru keranjingan sekarang adalah update Facebook, setiap hari selalu on, bahkan mobile sekalipun…mungkin sedang seneng-senengnya yaaa, tapi memang menurut saya banyak manfaat yang bisa didapat. Dari pertemanan virtual ini, saya bisa berinteraksi dengan teman lama, klien, pejabat, artis, ketua parpol, calon presiden, sampai caleg…

Tapi dengan tampilan baru ini, saya membulatkan tekad lagi untuk berjanji: one day, one post di blog ini…mudah-mudahan ditepati!

Two pieces, one controversy ala Putri Raemaswati…

Putri Raemaswati, arek ITS asal Blitar yang terpilih sebagai Puteri Indonesia dan mewakili Indonesia dalam ajang Miss Universe di Vietnam, tiba kembali di Indonesia semalam. Belum hilang rasa lelah selama mengikuti rangkaian acara pemilihan puteri sejagad, Putri sudah ditunggu dengan kontroversi yang merebak di masyarakat akibat keberaniannya menggunakan baju renang model one piece pada sesi penilaian menggunakan swimsuit (video resmi-nya bisa lihat disini)

Sebenarnya kontroversi semacam ini sudah menjadi tradisi setiap pemilihan Miss Universe digelar–dengan wakil Indonesia sebagai salah satu pesertanya–dan argumen yang dikemukakan baik oleh yang pro ataupun yang kontra, masih argumentasi yang sama. Di satu sisi alasan norma agama dan budaya yang disampaikan, di sisi lain alasaan konsekuensi logis sebagai peserta yang dikemukakan.

Saya tidak mau terjebak dalam ritual kontroversi ini, hanya sebagai pribadi saya berpendapat jika memang sebagian besar rakyat Indonesia tidak menghendaki ada wakilnya memperlihatkan lekuk tubuh di depan manusia sejagad (nggak peduli pakai one piece atau two piece!), maka sebaiknya diputuskan tahun depan Indonesia tidak mengirimkan utusan ke pemilihan Miss Universe  bahkan ekstrimnya tidak perlu lagi dilanjutkan tradisi pemilihan Puteri Indonesia…maka dijamin tahun 2009 tidak akan muncul kontroversi yang sama.

Akan tetapi, jka ternyata menurut sebagian besar masyarakat, mengirimkan utusan ke Miss Universe itu bermanfaat (manfaatnya kan bisa dicari-cariin..hehehhe), maka tak perlu ada yang mengomentari penampilan Puteri Indonesia dengan bikini di ajang Miss Universe, karena pada dasarnya sesi penilaian swimsuit merupakan unsur wajib selain sesi gaun malam dan baju nasional (katanya begitu sih!), karena–lagi-lagi katanya–faktor penilaian ajang miss-miss-an begitu didasarkan pada 3B (Brain, Beauty, Behaviour).

Brain-nya bagus bila bisa secara spontan menjawab pertanyaan/komentar juri (spontan juga berarti benar loh, jadi kalo menyebut Indonesia is my beautiful city ya gimana yaaaa…). Behaviour berarti tingkah laku para kontestan selama masa karantina. Nah, unsur BRAIN itu lebih besar faktor keberuntungannya…asal mendapat pertanyaan yang bisa dijawab dengan pas, maka dia akan kelihatan smart! BEHAVIOUR? bisalah menahan diri untuk kelihatan supel, ramah, peduli dan baik hati selama sebulan karantina. Maka jadilah faktor BEAUTY yang menjadi penentu, dan itu jelas bukan hanya didasarkan pada model baju yang dikenakan tapi lebih pada WAJAH dan TUBUH…so bagaimana bisa menilai lekuk tubuh si kontestan kalo tidak ber-bikini???

Parahnya, menilai kecantikan seseorang itu kan sangat subjektif. Kontestan asal Afrika bagi sebagian orang tidak cantik, bagi sebagian lainnya eksotis. Kontestan asal Amerika Latin & India, mau dinilai pakai teleskop pun tetap cantik…

Jadi? Ya, nurut selera Donald Trump aja…karenanya sangat sulit wakil Indonesia masuk kategori 3 besar sekalipun. Kecuali suatu saat kita kirim puteri Indonesia naturalisasi dari Brazil, India atau Meksiko hahahahaaa….

Cuma masalahnya, bagaimana menentukan jumlah pendapat ‘sebagian besar masyarakat’ itu tadi? Referendum? Polling? SMS terbanyak? aaahh ribet, pemilu aja banyak yang golput…jadi mendingan kita tetap ber-kontroversi aja deh, supaya koran & majalah tambah laris, rating debat di TV naik, para koruptor sedikit lega karena nggaklagi menjadi pusat perhatian…SAYA? mending nikmatin foto Putri…dengan rambut ikal sebahu dan badan dilulur lotion mengkilat, Putri Raemaswati memang cantik! :)

foto-foto dari DetikHot & Globalbeauties

The Power of Facebook

Sebelumnya, saya tidak tertarik untuk buat account di Friendster, Facebook, Twitter atau jaringan pertemanan sosial semacamnya, hingga suatu pagi membaca tulisan Hermawan Kartajaya di Jawa Pos yang mengulas tentang Facebook. Singkat cerita, saya pun membuka account Sulaiman Effendi dan mulai mencari jejaring teman, dari yang sudah kenal secara fisik, pernah tahu namanya, hingga yang hanya karena fotonya menarik :)

Saat posting ini dibuat sudah tercatat 100 lebih teman dari beragam latar belakang dan ini yang semakin membuat ketagihan, karena ternyata ada teman yang sudah mencapai ribuan jaringan…

Dan yang semakin membuat saya terpesona adalah saling keterbukaan antara kami sehingga data–yang paling pribadi pun–di-publish, dan ini yang menarik beberapa politisi mulai menggunakan medium ini untuk menyampaikan ide/gagasan politik mereka atau justeru memperkenalkan produk/perusahaan tempat dia bekerja…secara sederhana kira-kira hal ini yang disebut new wave marketing (lebih detailnya bisa tanya Pak Hermawan deh..)

Bagaimana menurut anda? (halah ketularan..)

Indonesia Bisa! (dh: Bersama Kita Bisa!)

Logo BISA!Peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun ini, jauh berbeda dari peringatan tahun-tahun sebelumnya. Dengan dalih kali ini adalah peringatan ke-100 tahun, nuansanya lebih gebyar dan semarak (jadi berkesan HUT Proklamasi yaa..). Semua elemen, organisasi, TV, parpol, capres dan lapisan masyarakat lainnya, memanfaatkan momentum ini dengan caranya sendiri-sendiri dengan sudut pandang 100 tahun yang juga beragam…ada yang optimis, banyak yang pesimis!…ada yang mengadakan seminar, upacara, membuat buku, bahkan ada yang keliling Jawa naik motor gede. Puncaknya, panitia nasional peringatan Harkitnas menggelar pesta perayaan yang mewah, semalam di Gelora Bung Karno–sekilas, perayaan tersebut mengingatkan kita pada upacara pembukaan pesta olah raga semacam Sea Games, PON..kalo olimpiade hmmm, masih jauh lah!–lengkap dengan 6000 tentara dan polisi, ribuan penari, 5000 mahasiswa UI, parade marching band dan 1000 pesilat, belum termasuk, ribuan kwh tata cahaya, ratusan kembang api dan unjuk kebolehan terjun malam dari helikopter TNI-AU.

 

 

Jujur, dari satu sisi–terutama dari sisi persiapan, penyelenggaraan dan susunan acara yang rapih (kan, saya melihatnya dari sisi sesama organizer  hehehe.. )–acara tersebut membuat saya bangga. Namun dari sisi lain, banyak hal yang patut dipertanyakan. Berapa besar biaya yang dikeluarkan? Berapa rupiah nilai APBN yang digunakan–dibandingkan berapa rupiah yang hendak dihemat dengan menaikkan harga BBM?? Apa yang hendak dicapai dengan acara tersebut?

 

Indonesia Bangkit 4   Indonesia Bangkit 3

 

Indonesia Bangkit 2    Indonesia Bangkit 1

 

foto by: alif ichwan & agus susanto (www.kompasimages.com)

 

Yang saya tangkap, inti pergelaran spektakuler tersebut adalah pembacaan deklarasi Indonesia Bisa! oleh Presiden Yudhoyono, ajakan bagi masyarakat Indonesia untuk bangkit dari keterpurukan dengan memanfaatkan momentum peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional.

 

 

Dibalik semua itu, tercium pula aroma politis berupa unjuk kekuatan menjelang pilpres 2009. Hal ini terlihat dari orang-orang penting dibalik perhelatan, lagu tema yang diciptakan khusus oleh SBY dan last but noy least tema Indonesia Bisa!, mengingatkan kita ke sebuah jargon capres di 2004 lalu: Bersama Kita Bisa! semoga, penciuman saya salah!!

Mencari Ide itu (tidak) Gampang…

Acapkali kita begitu terpesona menyaksikan iklan TV yang yang menggugah emosi atau iklan cetak di koran dan majalah yang begitu bagus secara visual, tanpa kita sadari betapa sulitnya mengejawantahkan iklan tersebut dari sebuah ide.

Bagi pekerja iklan, yang namanya IDE akan menjadi faktor penting dalam sebuah eksekusi iklan. Iklan yang baik, bagus dan menjual pastilah berasal dari ide yang hebat–walaupun kadang sederhana–. Dan itu bukan hal yang mudah!

Tidak cukup dengan hanya brainstorming, FGD ataupun mencari insight…terkadang yang lebih diperlukan adalah faktor kebetulan. Ya, KEBETULAN! Ide kadang muncul disaat yang terduga, di tempat yang tak terduga pula. Bahkan tidak jarang, sebuah ide muncul disaat kita melakukan ‘ritual pagi’ di toilet!

Mari kita coba menganalisa, kira-kira ide apa dibalik iklan berikut…

canon.jpg

atau yang berikut….

sexy.jpg

atau yang ini…

vw.jpg

susah kan? Makanya, mencari ide itu (tidak) gampang!

source: www.funnyplace.org



Teamwork & Analogi Keringat

Mengelola sebuah tim yang mengandalkan kerjasama antar personal didalamnya tentu bukan suatu hal yang mudah. Semakin banyak anggota tim, semakin kompleks pula persoalan yang melingkupi dan tentu saja semakin besar energi yang dibutuhkan untuk meng-kolaborasikan kinerja personal menjadi sebuah teamwork yang baik.

Saya mengalaminya. Mengelola tim–walaupun tidak cukup besar–tetapi cukup kompleks karena latar belakang anggota tim yang rentang perbedaannya cukup besar antara satu dengan lainnya. Diluar masalah pribadi (keluarga, anak, istri, pacar, selingkuhan ataupun keuangan), permasalahan performance saja sudah cukup memeras otak. Satu orang sangat profesional terhadap job description-nya, orang yang lain biasa saja dan cenderung apatis, orang yang lain menunggu dipecuti untuk bekerja.

Seringkali saya menggunakan analogi keringat untuk menggugah performance mereka bila dirasa mulai kendor. Kira-kira begini, dalam sebuah tim olah raga (biasanya sepak bola) harusnya keringat yang dikeluarjan setiap anggota tim sama banyaknya…tidak peduli dia berada di posisi mana. Bagi anggota tim yang berusaha lebih keras, dianalogikan berkeringat lebih banyak..lebih deras. Anggota tim lainnya, berkeringat biasa saja karena dia santai hanya kesana-kemari tanpa peduli arah bola kemana. Lainnya hanya pasif menunggu datangnya bola dan dia belum berkeringat sama sekali. Yang lebih parah lagi, ada anggota tim yang masih santai-santai di pinggir lapangan sementara teman lainnya sudah mencetak gol dan bahkan kemasukan gol…tanpa dia sadari!

Harusnya, mereka bisa memposisikan diri sesuai analogi tersebut. Sudah berkeringat banyak, baru berkeringat atau masih ‘di pinggir lapangan’…dengan harapan tentu saja selanjutnya bisa introspeksi diri dan berusaha ‘berkeringat’.

Berhasilkah analogi tersebut mengubah kinerja menjadi lebih baik?

(saya sendiri masih menunggu mereka berubah, tuh!)

teamwork.jpg

Hillary loves Obama?

Menarik buat bahan diskusi nih….Gambar ini didapat dari sini, saya koleksi print ad dan video iklan buat bahan nyari ide atau discuss sama teman-teman

Iklan AXE ini menarik, dari segi ide konsisten dengan ‘axe effect’, dari segi eksekusi mungkin biasa saja (walaupun susah buat gaet modelnya…jadi kebayang kalo misalnya iklan ini dibuat versi Indonesia, nanti menjelang pilpres 2009 gimana ya…misalnya Megawati pakai pin SBY ato Wiranto gitu…hahahaaa…)

axe.jpg

source : www.funnyplace.org

Geliat Agency Marcomm Daerah

Bagaiman prospek bisnis komunikasi pemasaran di Surabaya? Apa kendala yang ditemui? Bagaimana soal SDM? Apa yang membuat agency daerah bisa bertahan?

Demikianlah sederet pertanyaan yang saya terima dari rekan-rekan CAKRAM sehubungan dengan topik utama CAKRAM Fokus edisi bisnis komunikasi pemasaran daerah (02/2008). Sederet pertanyaan panjang yang selama ini juga menjadi bahan diskusi dengan teman dan rekan bisnis se-kategori. Mungkin jika pertanyaan yang sama diajukan ke lebih dari 10 (sepuluh) orang pelaku bisnis komunikasi pemasaran di Surabaya, jawabannya pun relatif seragam. Bagi kami, prospek dan tantangan harus selalu ada karena dua hal itulah yang membuat nadi perekonomian perusahaan berdenyut secara konsisten.

Secara umum, prospek bisnis ini di daerah–khususnya Surabaya–cukup cerah, pesaing walaupun banyak dan hampir setiap waktu bertambah nampaknya tidak membuat bisnis ini berada di titik jenuh. Tantangan? pasti sama! kue yang diperebutkan relatif sedikit, SDM yang kurang qualified dan ‘serbuan’ agency Jakarta yang tanpa ampun membuat agency daerah harus tetap survive dan fight!

Menurut analisa SWOT akhir tahun kemarin, kami juga mau-tidak mau harus tetap konsisten untuk menjadi spesialis dan tidak hantam kromo mengerjakan semua hal yang bukan menjadi keahlian kami. Termasuk juga, salah satu amunisi untuk tetap bertahan tadi adalah beriklan dan menunjukkan positioning perusahaan–salah satunya kami pasang di Cakram Fokus bulan februari tersebut.

Apa pendapat Anda, pelaku bisnis komunikasi pemasaran di daerah lain?