Sulaimaneffendi.com re-launch @ 090909
seperti yang sudah saya janjikan beberapa waktu sebelumnya, baik melalui FB ataupun twitter...hari ini 09-09-2009 jam 09:09 kembali saya launch blog www.sulaimaneffendi.com

apa sebab harus di-relaunch?

karena mulai minggu ini, blog saya tersebut sudah berpindah server dan memperbesar bandwith dan space-nya, dari yang semula hanya ber-space 100MB dan 250MB, sekarang menjadi 1GB dan 20GB

wordpress yang saya pakai pun sudah memakai yang ter-update yaitu versi 2.8.4 (code name Baker) dan yang pasti berubah juga adalah tampilannya tentu saja....

yang terpenting...sejak re-launch ini, nawaitu nge-blog kembali ke niat awal yaitu tempat menampung segala ide, catatan dan isi hati tentang segala hal yang saya lihat, saya rasa dan saya lakukan...tanpa embel-embel berburu dollar

dalam hati, saya juga kembali memantapkan niat: one day one post!

selamat menikmati...

Share This Post
Facebook-an Berlebihan Diharamkan Ponpes se Jawa-Madura

(dari Detik.com) Boomingnya layanan situs jejaring sosial, seperti facebook, friendster maupun chatting untuk menjalin hubungan pertemanan diam-diam diawasi oleh ulama.
Pondok Pesantren se Jawa-Madura yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pondok Pesantren Putri (FMP3) mengharamkan pemanfaatan situs jejaring sosial secara berlebihan, seperti mencari jodoh maupun pacaran.
Pernyataan ini sesuai dengan hasil pembahasan dalam Forum Bahtsul Masail di Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtdien Lirboyo, Kelurahan Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, yang dilaksanakan sejak 2 hari yang lalu.

"Ini merupakan hasil pembahasan terakhir yang kami lakukan semalam. Intinya, larangan ini kami keluarkan sesuai dengan aturan yang sudah ada dalam ketentuan agama," kata salah satu anggota perumus Komisi C FMP3, Masruhan saat ditemui detiksurabaya.com di Pondok Pesantren Lirboyo, Jum'at (22/5/2009).

Dijelaskan oleh Masruhan, larangan tersebut ditekankan adanya hubungan pertemanan spesial yang berlebihan. Apabila hubungan pertemanan spesial tersebut dilakukan mengenal karakter seseorang dalam kerangka ingin menikahi dengan keyakinan keinginannya akan mendapatkan restu dari orang tua, hal tersebut tetap diperbolehkan.

"Di sini yang dilarang apabila penggunan facebook hanya untuk mencari jodoh dan mengenal karakternya dan tidak dalam proses khitbah (pinangan atau lamaran)," jelas Masruhan.

Dalam penentuan pernyataan tersebut, FMP3 menggunakan sejumlah dasar. Antara lain Kitab Bariqah Mahmudiyah halaman 7, Kitab Ihya' Ulumudin halaman 99, Kitab Al-Fatawi Al-Fiqhiyyah Al-Kubra halaman 203, serta sejumlah kitab dan tausiyah dari ulama besar.

"Intinya yang kami hasilkan ini sesuai dengan ketentuan dalam agama, yang secara tegas sudah menyebutkan hubungan pertemanan speSial tanpa ada maksud keseriusan diharamkan," ungkap Masruhan.

Dijadikannya penggunaan layanan jejaring sosial sebagai pembahasan dalam forum Bahtsul Masail, dijelaskan Masruhan dikarenakan penggunaannya sudah dianggap sangat mengkhawatirkan. Pertemanan dalam facebook oleh masyarakat, sejauh ini dianggap lebih sering dilakukan dengan sifat tidak serius.

Secara terpisah juru bicara forum Bahtsul Masail FMP3, Nabil Haroen menegaskan, dalam pengambilan keputusan tersebut pihaknya menggunakan dasar yang berbeda dengan dasar yang digunakan oleh forum lain.

"Seperti MUI kalau memiliki dasar lain dengan keputusan yang berbeda kami tidak dapat menyalahkan. Kami hanya menjalankan kewajiban seorang muslim untuk saling mengingatkan, dengan tidak ada maksud menekan," kata Nabil.

Ditegaskan Nabil, hukum haram yang dikeluarkan pihaknya hanya untuk penggunaan facebook untuk hubungan pertemanan spesial yang berlebihan. Layanan jejaring sosial semacam friendster dan facebook tetap dinyatakan halal bila dipergunakan sesuai manfaat dan kegunaannya.

"Kami juga harapkan, pernyataan ini bisa dijadikan pelajaran bagi owner facebook atau friendster, agar mereka lebih selektif serta menggunakan kontrol ketat terhadap penggunaannya," papar Nabil.

selengkapnya disini.
Share This Post
Category: Aktual, Opini  Tags: ,  4 Comments
SEO ala Rani Juliani


Anda kenal dengan wajah disamping ini? Namanya Rani Juliani. Jika Anda rajin mengikuti berita akhir-akhir ini, wajah tersebut tentu tidak asing. Ya, Rani Juliani (katanya biasa dipanggil Tika) adalah wanita yang kerap disebut menjadi bagian dari peristiwa pembunuhan terhadap Nazarudin Zulkarnain yang juga--secara mengejutkan--melibatkan ketua KPK non aktif Antasari Azhar.


Sulaiman Effendi tidak akan mengulas peristiwanya, tetapi ada yang menarik bahwa salah satu sumber yang sering dikutip untuk mengetahui latar belakang dia adalah blog milik Rani Juliani.

Di blog-nya tersebut, Rani menggambarkan dirinya sebagai

Saya seorang gadis yang manies menurut pengamatan orang2 di sekeliling aq. Diriku lahir pada tanggal 01 juli 1986. jangan lupa ngado yah... Anak ke 3 dari 4 sodara, tadinya mau bungsu, tapi bonyok gw doyan. he he

Seandainya yang muncul di pemberitaan adalah berita positif, hal ini tentu merupakan promosi luar biasa untuk blog-nya Rani, tak perlu ber-susah payah menerapkan ilmu SEO utnuk meningkatkan traffic. Bagi Anda yang blogger pasti tergelitik untuk berkunjung ke blog tersebut. Padahal, bagi blogger lain perlu banyak biaya, waktu dan tenaga untuk mem-promosikan blog supaya banyak pengunjung.

Sayang di blog Rani tidak ada widget untuk mengetahui jumlah visitor, jadi tidak bisa terlacak berapa visitor yang sudah berkunjung.

Setidaknya, saat ini Rani sudah mencapai keinginannya untuk menjadi 'wanita karir yang sukses dan mapan' seperti dia katakan di blog-nya. Sukses menjadi bahan pembicaraan, sukses mengantarkan Antasari Azhar ke penjara dan mapan di persembunyian....

Ads by AdGenta.com

Share This Post
Indonesia (kini) Seluas Teuku Umar Hingga Cikeas
    Anda pasti sudah paham dengan kiasan 'dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote'...sebuah kiasan untuk menunjukkan betapa luasnya wilayah Nusantara Indonesia
    Hari-hari terakhir ini, kiasan tersebut benar-benar bermakna hanya sekadar kiasan, tidak kurang-tidak lebih. Mengapa? Republik Indonesia yang maha luas ini, masa depannya akan ditentukan pada 9 Juli nanti, saat rakyatnya akan secara langsung memilih siapa yang layak menjadi presiden dalam Pemilu Presiden (pilpres) 2009.
    Mengapa Republik Indonesia tidak lagi dari Sabang hingga Merauke? Ya, kini Nusantara hanya seluas Teuku Umar hingga Cikeas, bahkan tidak lebih luas dari wilayah Jabotabek. Teuku Umar adalah tempat Megawati dan tim suksesnya berkumpul, Cikeas (Puri Cikeas) adalah markas besar Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatur strategi. Diantaranya juga ada Slipi, tempat Jusuf Kalla (JK) mengumpulkan pendukung.
    Persoalan besar dan rumit, menentukan siapa calon presiden dan calon wakil presiden, kini hanya cukup dibicarakan antar tim sukses setelah para calon saling berkunjung. Tak perlulah tahu apa yang diinginkan rakyat, yang penting punya modal persentase suara dan kursi DPR hasil Pileg 2009
    Tanpa menafikan kemampuan (lebih tepatnya keinginan berkuasa!) mereka menjadi pemimpin, sebenarnya tidak ada yang salah dengan proses koalisi. Yang ganjil adalah proses tersebut seakan-akan menciptakan jarak antara elit politik dan rakyat, jarak yang jauh bagai langit dan bumi. Apa yang diharapkan rakyat Indonesia terhadap calon pemimpinnya, bukan menjadi pertimbangan utama...yang penting punya 'gizi' (: baca modal uang) untuk menunjang nafsu berkuasa. Tak penting lagi di pemilu legislatif kemarin mendapat suara berapa, yang penting bisa mengumpulkan 20% suara untuk syarat pendaftaran, selanjutnya masih ada 1001 macam cara untuk menggaet pemilih, dari yang instan dengan beriklan hingga yang gampang dengan bagi-bagi uang...
    Mengapa nama yang muncul ke permukaan akhir-akhir ini hanya berkutat di SBY, JK, Megawati, Prabowo & Wiranto? Tidak adakah orang Indonesia lain yang punya kemampuan? Jawabannya cukup panjang dan harus tersusun secara kronologis, sejak parpol (besar) yang duduk di DPR mengesahkan RUU Pemilu maka hilang pula kemungkinan munculnya capres independen dan secara perlahan mulai tenggelam nama-nama yang selama ini getol mengajukan diri sebagai calon presiden alternatif. Tidak peduli menurut hasil survei, nama-nama yang kerap muncul tersebut hanya memiliki persentase elektabilitas rendah.
    Pada akhirnya, jika kondisi seperti saat ini masih berlangsung beberapa dekade nanti, maka tak akan ada anak Indonesia yang bercita-cita menjadi presiden...jadi jika anak Anda ada yang bercita-cita menjadi presiden, sebaiknya Anda sarankan mulai saat ini untuk mengubah cita-citanya menjadi ketua umum partai politik atau minimal ketua dewan penasihat
Anda setuju?
Share This Post
Firefox Add Ons Penting Buat Blogger


Anda blogger dan sehari-hari lebih sering menggunakan Firefox sebagai internet browser-nya? Berikut beberapa add ons yang akan berguna bila sudah terinstall. Mozilla Firefox memang layak dipilih karena beberapa kelebihan yang dimiliki, bahkan menurut data internet browser software review, Firefox menjadi pilihan utama dibandingkan browser lain. Add ons penting buat para blogger berikut setidaknya telah saya gunakan dan memang bermanfaat :

Scribe Fire
Add ons yang satu ini layak dipilih karena mengedepankan kemudahan dalam memposting artikel ke blog. Tanpa harus bersusah payah menuju halaman admin, scribe fire sudah menyediakan segala kebutuhan posting-memposting, mulai dari insert  image, link, special character hingga video dari you tube.





Setting awal-nya pun cukup sederhana, tinggal memilih jenis blog, mengisi user name & password dan melengkapi dengan kode API, maka posting di blog pun menjadi semakin mudah. Bahkan jika ide sedang banyak, scribe fire menyediakan banyak tab dan fungsi penyimpanan otomatis. Keren kan? Tinggal nyari ide sebanyak-banyaknya deh...

Link Checker
Yang ini sangat berguna bila Anda aktif berburu dollar di internet. Sudah menjadi rahasia umum, jumlah link dalam blog kita menjadi salah satu acuan meningkatkan page rank. Add ons ini akan memeriksa semua link di blog kita satu per satu dan menginformasikannya jika ada bad link. Tentunya semakin banyak link yang tertaut di blog kita, semakin lama pula add ons ini mengecek.



  


Copy as HTML
Anda suka bertukar link dengan blogger lain? Tentu menyenangkan punya banyak teman di dunia maya dan dibuktikan dengan banyaknya link teman di blog kita. Beberapa blogger sudah dengan sukarela menyiapkan code ink atau banner yang siap di-copy paste ke blogroll kita.

Tapi bagaimana dengan blog yang tidak menyediakan code html link blog-nya? Maka kita harus sedikit bersusah payah menulis ulang...bisa dibayangkan bila ada puluhan link yang harus kita masukkan...cape dehhh...

Jangan khawatir, Firefox menyediakan add ons yang memudahkan kerja kita...tinggal scroll title blog/web yang akan kita tautkan, lalu klik kanan dan  copy as HTML link...beres

 

setelah di-paste jadinya seperti ini : <a href="http://sulaimaneffendi.com/">sulaimaneffendi.com</a>

Tunggu apalagi, ayo cari link sebanyak-banyaknya....


Wordpress Helper
Anda blogger, pengguna Firefox dan menggunakan platform Wordpress? Semakin lengkaplah kemudahan yang akan Anda terima dengan menginstall add ons ini. hampir semua fasilitas yang ada di WP-Admin bisa ditemui secara mudah disini, tanpa perlu membuka window baru.

Tidak hanya berguna untuk blog Anda sendiri, add ons ini juga berfungsi untuk mengecek blog lain asalkan ber-platform wordpress (ya iya lahhh.....)

Jadi, kalo Anda sudah pakai wordpress segera saja install....buat yang belum pakai worwpress, segeralah beralih...loh koq malah promosi :)



 


Search Status
Ini berguna banget jika anda SEO mania, setiap hari berkutat dengan page rank, alexa dan sebagainya. Saya kutip kegunaan add ons ini dari Firefox :
Display the Google PageRank, Alexa rank, Compete ranking and SEOmoz Linkscape mozRank anywhere in your browser, along with fast keyword density analyser, keyword/nofollow highlighting, backward/related links, Alexa info and other SEO tools.
Dengan hanya satu add ons, Anda tak perlu lagi mmebuka banyak windows hanya untuk sekadar mengetahui ranking blog Anda...tampilannya seperti ini nih :

 




Site Information Tool
Pernah merasa sebel dengan pemilik sebuah blog, sementara tidak ada halaman 'about us'-nya? Atau Anda penasaran berapa rangking blog kita di Google, Alexa, Compete dan Technorati? Atau bahkan nggak yakin dengan keyword yang selama ini kita gunakan?

Jika jawaban semua pertanyaan tadi adalah YA, maka add ons inilah jawabannya...(bahasanya jualan banget yak?)

Setelah membuka halaman blog yang ingin kita ketahui data-nya, tinggal klik balon info di bagian bawah browser seperti ini



bisa juga dengan cara ini :

  

setelah di-klik, kita akan diarahkan menuju window baru, seperti ini :




sementara ini yang bisa saya bagi, nanti disambung lagi...


Powered by ScribeFire.

Share This Post
Real Count, Quik Count ala KPU

Tags: , , , ,

Sudah tahu pemenang pemilu 2009 versi quick count? Tergantung penyelenggara quick count mana yang menurut Anda bisa dipercaya, ada LSI, ada juga LSI (klik aja kalo bingung membedakannya...) atau LP3ES dan beberapa lembaga lainnya. Yang pasti hasil perhitungan versi quick count bukanlah hasil akhir, karena KPU baru akan menentukan pemenang secara resmi setelah perhitungan manual.

Tetapi, ada perkembangan baru dari KPU yang kini juga melakukan perhitungan versi real count, yang datanya diperoleh langsung dari TPS-TPS tetapi dilaporkan secara elektronis sehingga lebih cepat di-update...gampangnya perhitungan manual versi cepat!

Data yang dipaparkan lebih detail dan update-nya lebih cepat (cepatnya relatif ya, menurut KPU data-nya di-update setiap 30 menit dan hingga saat posting ini di-publish data yang di-upload masih kurang dari 30% total TPS..)

Di perhitungan real count ini, pengunjung bisa lebih detail (untuk sementara hanya untuk kursi DPR) berdasarkan propinsi dan dapil-dapilnya, selain perhitungan secara nasional.

Coba sekali-kali cek disini, siapa tahu caleg atau partai favorit Anda berbeda datanya dengan versi quick count...tapi kalau Anda golput atau tidak diundang oleh KPPS ya sebaiknya browsing yang lainnya deh....setuju?

Share This Post
Mencari Ide itu (Tidak) Gampang

Tags: , , ,                                 

Suatu saat, saya pernah berkomitmen untuk  rajin menulis di blog, kira-kira begini :

Tapi dengan tampilan baru ini, saya membulatkan tekad lagi untuk berjanji: one day, one post di blog ini...mudah-mudahan ditepati!

Jangan tanya kenyataannya, sejak posting janji tersebut hingga posting yang ini di-publish, jumlah postingan yang saya buat masih dalam hitungan jari sebelah tangan saja.

Ternyata tidak mudah menepati janji--walaupun itu janji ke diri sendiri--karena bermacam alasan, salah satunya adalah: tidak ada ide! Padahal alasan utama-nya hanya satu: MALAS!

Mencari ide untuk tulisan sebenarnya bukan hal yang sulit, ada banyak sumber ide yang  bisa menjadi bahan tulisan. Dari koran yang tiap pagi Anda baca, dari radio yang Anda dengar saat di perjalanan ataupun dari yang Anda lihat dalam keseharian. Permasalahannya bagaimana mengemas ide yang muncul menjadi sebuah tulisan lengkap dengan gagasan atau pemecahan dari kita, jika tulisan yang kita buat berupa sebuah permasalahan.

Selanjutnya, setelah sebuah ide muncul segeralah ditangkap dalam benak dan buat kerangka tulisan (masih dalam pikiran!). Bayangkan, kira-kira apa judul tulisan yang menarik, ide dasar dan gagasan kita, solusi serta referensi yang sesuai (untuk menguatkan ide kita atau menautkan tulisan kita dengan orang yang lebih paham dengan ide/gagasan kita).

Kadang-kadang saya menemukan ide saat di jalan, sambil lalu mulai merancang kerangka tulisan dan itu dilakukan sambil menyetir...motor! Nah, supaya kerangka tulisan yang sudah kita susun tidak hilang...sesampainya di tempat kita bisa ngetik komputer, segeralah menuangkannya dalam sebuah tulisan.

Ada kalanya tulisan hanya bisa selesai setengah halaman, karena otak sudah buntu atau ada gangguan lain termasuk pekerjaan (gila ya, pekerjaan dianggap gangguan untuk posting blog hehehehhe...), maka perlu Anda install program yang bisa publih post secara offline, contohnya posting ini saya buat dengan program QUMANA, software-nya bisa Anda dapatkan di bagian 'free download'.

Oke, Anda sudah punya ide, sudah pula merancang kerangka tulisan, saatnya menuangkan dalam tulisan lalu publish di blog, di Facebook atau kirim ke forum di internet.

Share This Post
Category: Opini  2 Comments
Golput itu Biasa, Dipaksa Golput baru Luar Biasa!

Pemilihan anggota legislatif melalui pemilu 2009 sudah berakhir--walaupun di beberapa daerah pemilu ulang masih dan akan berlangsung--lengkap dengan hasil quick count dari berbagai lembaga survey.

Saya yang notabene masih warga negara Republik Indonesia dan mempunyai hak pilih dengan sangat terpaksa tidak bisa mencelupkan jari ke tinta, sebagai pertanda sudah menggunakan hak pilih.

Terlepas dari tidak adanya calon anggota legislatif yang saya kenal dan ketahui latar belakangnya sehingga layak di-coblos eh.. di-contreng, dipaksa menjadi golput itu terjadi karena saya menjadi salah satu korban kekisruhan masalah DPT yang sudah sejak jauh hari sebelum pemilu berlangsung sudah menjadi perhatian banyak orang. Hingga H minus beberapa jam, saya masih berharap ada undangan yang diantar ke rumah, namun nyatanya hingga pintu TPS dibuka undangan yang dimaksud belum juga ditangan. Saya coba memastikan dengan melihat DPT yang dipasang di papan pengumuman TPS terdekat, nihil juga...

Saya bukan satu-satunya korban, terdapat ribuan warga negara yang mempunyai nasib sama, contohnya disini...dan juga tidak terdaftar di DPT bukan satu-satunya modus kekisruhan, selain adanya penggelembungan data pemilih, masalah surat suara, dan lainnya

Tentang Pemilu 2009

Tanpa bermaksud ingin kembali ke masa lalu, iseng-iseng kalo kita analisa, pemilu di jaman orde baru lebih 'baik' daripada pemilu di orde reformasi saat ini, coba kita analisa..

Tentang DPT, dulu untuk terdaftar di DPT kita akan dikunjungi petugas yang mendata siapa-siapa saja dalam sebuah keluarga yang sudah mememuhi syarat mendapat hak pilih. Tinggal menunggu beberapa hari sebelum hari pencoblosan, surat undangan pun di antar petugas kelurahan! Bandingkan dengan saat ini yang penentuan DPS & DPT-nya mengacu pada data hasil survey Biro Pusat Statistik (BPS), jadi kemungkinan 'ketlisut' sungguh sangat besar...

Tentang Partai Politik, euforia masa reformasi berarti juga euforia mendirikan partai politik. Punya sumber dana, punya jaringan yang bisa menggerakkan massa dan yang paling penting punya rasa PD yang tinggi sudah cukup memenuhi syarat mendirikan partai. Maka tak heran jika kertas suara pemilu 2009 selebar kertas koran, agar muat menampung nama caleg dari 38 partai! Bandingkan dengan hanya ada 2 (dua) partai politik dan 1 (satu) 'golongan' di jaman orde baru lalu...hemat, murah, efisien! :)

Tentang Quick Count, hasil Pemilu saat ini sudah bisa diketahui 'versi cepat'-nya cuma dalam hitungan beberapa jam setelah proses perhitungan di TPS selesai. Hasil-nya pun bervariasi, bergantung lembaga penyelenggara quick count, metode perhitungan, margin of error dan tentu saja siapa sponsor pelaksanaan quick count tersebut! Tapi secepat-cepatnya quick count pemilu saat ini, masih lebih cepat perhitungan hasil pemilu di era orde baru. Di jaman Pak Harto berkuasa dulu, hasil pemilu sudah diketahui Golkar-lah pemenangnya..jauh sebelum pemilu-nya sendiri terlaksana....:) :) :)

Anda setuju? Jangan ditanggapi serius ya, apalagi jika Anda juga golput seperti saya!

Ads by AdGenta.com

Share This Post
Category: Others  Leave a Comment
Alexa oh Alexa….

Tags: , , ,

Sejak mengaktifkan lagi aktifitas internet marketing, saya jadi rajin ngecek pagerank dan jumlah hits di blog. Ada pergerakan yang menggembirakan, selain menyedihkan juga.

Yang menggembirakan pagerank di google mulai naik, hits juga bertambah. Saya memang belum me-relaunch blog ini setelah aktif kembali, hanya mendaftarkan blog di beberapa blog directory, antara lain disini, disini dan disini.

Yang menyedihkan justru rank Alexa yang beranjak sebaliknya, dari seharusnya bertambah turun malah bertambah naik. Semula di kisaran 6 jutaan, sekarang malah naik sekitar 7 jutaan...Kata teman saya sih salah satu pemicunya adalah widget/applikasi follow/network yang saya ikuti, walaupun belum terbukti kebenarannya, saya ikuti juga dengan me-remove dari sidebar, tapi belum berhasil juga.

Secara khusus, saya memang belum mempraktekkan semua ilmu dari Pak Joko tentang internet marketing, saat ini masih dalam tahap 'mempercantik' tampilan dan daftar sana-sini, jadi maklum bila belum berorientasi menaikkan hits dan pagerank. Tapi hal ini menjadi obyektif tersendiri, selain tentu saja bertambahnya pundi-pundi dollar...

Beberapa hari ke depan, target yang harus segera dilakukan adalah menaikkan jumlah hits dan pagerank secara signifikan!

Anda punya strategi lain, menaikkan pagerank Alexa?

Ads by AdGenta.com

Share This Post
The Power of Advertising
by Simon Pitchforth

The local advertising industry has been in the news recently. A new regulation has come into force stipulating that advertising agencies should use only domestic actors, locations, etc., when making their commercials.

The Indonesian advertising industry is purported to be worth some Rp 40 trillion per year and is also apparently dominated by foreign companies, so perhaps that is fair enough. If the country succeeds in developing a domestic advertising industry then I hope that it will be goodbye to the children of mixed Western and Indonesian marriages who advertise skin?whitening products under false and racially rather dodgy pretences. The veracity of local adverts will not, however, ultimately be addressed by this regulation.

One English friend of mine, for example, who once appeared in a miraculous hair?dye advert in what I thought was a rather obvious wig will just as easily be replaced by the faux follicles of an Indonesian slap?head. Foreign or local actors? What does it matter? There's still a lot of hokum and snake oil out there being bought.

Apparently though, established icons, such as the Marlboro cowboy, will be exempt from the new regulation on the grounds that "no suitable cowboy in Indonesia could replace him." I'm not so sure about that myself; the builders who recently did some work on our house perhaps have the relevant cowboy credentials necessary (and they smoked a lot, too), but I'm getting off the point.

*****

The idea of icons in advertising is a fascinating one, though. Adverts just ooze with semiotic significance in their attempts to get consumers to identify with their products. Advertising agencies raid reference systems for visual and musical signifiers. Reference systems designate shared systems of knowledge, social stereotypes and widely recognized cultural symbols that all ?? consciously or unconsciously ?? connect with the viewer.

Late French theorist Roland Barthes famously turned his theories of semiotics (the study of signs) away from literature and applied them to cultural artifacts and adverts in his book Mythologies. With fascinating and hilarious consequences he teased out the hidden subtexts and cultural assumptions that underlie the symbolic order of our commercial world.

In one example, Barthes, being French, looked at the symbolic meaning attached to wine in his country. Wine, says Barthes, is not just one drink among others in France but a "totem" drink, equivalent to the milk of the Dutch cow or the tea ceremoniously taken by the British royal family.

Wine is thus not only a drink but the foundation of a collective morality. For the French, to believe in wine is a "coercive collective act" and drinking it is a ritual of social integration.

Substitute the word "wine" with "rice" and we have the Indonesian equivalent. In generating these mystical meanings, cultures seek to make their own socially constructed norms seem like facts of nature.

*****

Indonesian advertisements are ripe with such symbolism and second?order meaning. Watching the endless ads (which often seem to add up to as much total time as the programs themselves) one morning last week, all the familiar cultural signifiers were paraded across the screen, ready for deconstruction.

First, I was presented with a chili sauce advert that takes place in a traditional market over a stall selling real chilies. The pasar (market) is a common motif in Indonesian commercials and seems to symbolically encapsulate the pribumi "sons of the soil" mind?set.

The image presented is one of nature's bounty; a place where all of Indonesia's great fertility is focused in a social arena of reverent nationality and celebration. In reality, we all know that most markets are smelly, chaotic places full of thugs who extort the traders and steal people's wallets.

However, the advert seems to say, "Buy our chili and buy your own little piece of the Indonesian soil dream." The real chilies in the ad further serve to link the product with Indonesian fecundity, belying the fact that the stuff more closely resembles radioactive nuclear waste ground into an orange paste and is nothing like the real thing.

*****

Then we had a couple of drug commercials representing the pharmacological free?for?all that is the Indonesian drug market. Diarrhea medicine was codified by a man walking through a field of green tea. This natural image connotes a holistic, homoeopathic approach to medicine and seems to suggest that one's bowels will be gently purged of toxins whilst health is restored to you, ready for your next fix of

street?gutter satay.

The ensuing paracetamol advert took the opposite tack, however, by stressing the potency of the product. A woman is trapped in a vision of hell when her car breaks down in the Jakarta rush hour. The angry pain circles radiating out from her forehead can be subdued only by the tablets in question.

Personally, I reckon that nothing short of a morphine drip?feed or sawing your head off would actually subdue such a Jakarta traffic headache, but there you go. Dirty, smelly reality intrudes into this commercial but is soon tamed by the product under discussion. The seamless utopian dreams of the advertising paradigm are soon reinstated.

Milk formula ads are always rich in symbolism in this country, too. The one I saw featured all the usual flying mini globes circling the screen with the names of chemical elements stamped on them. These molecular totems serve to lend the product the deep scientific legitimacy needed to persuade the parents of six?year?olds that formula milk is vital for their children's health, despite the fact that their kids have had teeth for four years and thus can actually chew on real food.

Oh my God! The commercials seemed to stretch on and on like some surreal, deodorized hyper?world. I was also presented with dandruff the size of golf balls, sanitary towels as soft as gossamer wings and "typical" Indonesian families chugging down various breakfast cereals and rice dishes in houses the size of the presidential palace.

Share This Post
  • My Categories!

  • My Archives!

  • My Chat!

  • My Networks!



  • My Tweet!